Membanggakan! Mahasiswa Unsyiah Ini Lulus dengan IPK Nyaris 4

Tanggal 22 Juli 2014 merupakan momen paling bersejarah bagi Suryani. Bagaimana tidak, mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) ini lulus dengan IPK nyaris 4. Kemarin, ia diyudisium bersama ratusan mahasiswa FKIP Unsyiah lainnya di gedung baru Auditorium FKIP Unsyiah.

Putri bungsu pasangan Murdani dan Syamsiah ini lulus dengan IPK 3,94, tertinggi di prodi dan fakultas tempat ia menimba ilmu selama genap empat tahun atau delapan semester. Predikat lulus dengan terpuji pun disandangnya. Sebenarnya Suryani sempat memprediksi bahwa IPK-nya bisa lebih tinggi dari itu. Sebab, di semester terakhir, ia memperoleh IP 4.

Bagaimana rasanya lulus dengan IPK setinggi itu?

“Siapa sih, yang tidak senang dan bangga? Tapi, selain itu, ada rasa khawatir juga. Khawatir tidak bisa mempertanggungjawabkannya, baik itu dari segi keilmuan ataupun dari segi kepribadian,” ujarnya kepada ATJEHPOSTcom malam tadi, Selasa, 22 Juli 2014.
Yani, begitu gadis asal Cot Girek Paya Kareng Kabupaten Bireuen ini disapa, sangat bahagia sebab bisa mempersembahkan yang terbaik bagi kedua orangtuanya. Selama delapan semester mengenyam pendidikan di kampus jantong hatee rakyat Aceh itu, Yani pernah empat kali mendapat IP (Indeks Prestasi) 4, yaitu pada semester pertama, ke-2, ke-7, dan ke-8.

Mahasiswa angkatan 2010 ini merupakan anak dari keluarga sederhana. Ibunya, Syamsiah, seorang guru MIN di Cot Bada, Bireuen; sedangkan ayahnya, Murdani, adalah seorang petani. Sejak masih di MTsN, ibunya ingin agar Yani bisa menggantikan profesinya sebagai guru.

“Mamak ingin sekali anak-anaknya bisa menggantikannya sebagai guru. Berhubung saya anak terakhir dan dua saudara saya tidak ada yang kuliah di FKIP, maka sayalah yang mengambil kuliah di FKIP,” katanya. “Dan, kami dari keluarga sederhana. Saya melihat usaha dan kegigihan orangtua saya dalam membiayai pendidikan kami. Itulah yang membuat saya ingin membanggakan orangtua. Karena, saya pasti tidak bisa membalas apa-apa dari apa yang sudah diberikan orangtua untuk kami,” katanya lagi.|

Meskipun awalnya sempat tertarik pada sosiologi, namun setelah menjadi mahasiswa di FKIP, ia menjadi sadar bahwa profesi guru sangat luar biasa. Banyak tanggung jawab berat dalam mengemban profesi itu.
“Sebuah profesi yang tidak bisa dilihat dan dirasakan langsung manfaatnya,” katanya.

Dalam waktu dekat, Yani akan mengikuti kursus bahasa Inggris untuk menambah kemampuan bahasa Inggris-nya. Hal itu dilakukan untuk persiapan demi melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Atas prestasinya itu, Yani mendapat tawaran beasiswa dari pihak dekanan.

“Jangan pernah puas dengan apa yang kita dapat hari ini. Teruslah memperkaya ilmu. Karena, semakin kaya ilmu, kita semakin menyadari bahwa kita miskin ilmu. Dan, mari kita berterima kasih untuk semua orang spesial yang telah membentuk kita menjadi seperti saat ini,” ujar alumni SMAN 1 Bireuen ini.[AD-be]