Malam Panjang Bersama Erdogan

Oleh: Ariful Azmi Usman*

Istanbul, Minggu, 10 Agustus 2014. Ini hari yang ditunggu-tunggu oleh puluhan juta rakyat Turki yang akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan presiden pertama di negara itu. Tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, pemilu di Turki juga berlangsung aman dan tertib, tanpa suara ledakan apa pun atau ancaman lainnya. Sekitar pukul 08.00 pagi waktu Turki, tempat-tempat pemungutan suara pun dibuka hingga berakhir pada pukul 17.00 sore.

Malam pun tiba, terdengar kabar Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, unggul dalam pemilihan Presiden Turki perdana dengan jumlah suara mencapai 52% dari total suara yang sah. Saat penghitungan suara hampir selesai, ribuan massa mulai turun ke jalan, gemuruh dan riuh suara ledakan kembang api bercampur klakson kendaraan seolah membuat malam ini menjadi malam yang sangat bersejarah bagi masyarakat Turki.

Saya yang mondok di wilayah Altunizade (salah satu wilayah di Istanbul), dengan rasa penasaran yang tinggi terhadap demokrasi ala Turki, lalu tanpa ragu ikut dalam perayaan ini, layaknya warga negara Turki juga. Tepat pukul 20.00 malam, saya memberanikan diri turun ke jalan. Saya membatin, setidaknya bisa menjadi salah satu saksi sejarah Turki memiliki presiden perdana yang dipilih langsung oleh rakyat. Sesampai di jalan, kibaran bendera bulan bintang berlatar merah (mirip bendera GAM, tapi tanpa garis di atas dan di bawahnya) maupun bendera dukungan lainnya untuk Erdogan tanpa henti dilambaikan oleh ribuan massa. Mulai dari anak-anak, muda-mudi, hingga kaum ibu dan ayah yang menggendong anaknya.

Namun, ada hal yang unik dalam barisan orang Turki ini. Hati saya tersentuh seketika melihat pemandangan yang berbeda, seolah ini adalah sebuah kemenangan besar buat umat Islam. Bendera Palestina ikut mereka kibarkan beriringan dengan bendera Turki dan bendera dukungan untuk Recep Tayyip Erdogan. Seakan Palestina yang berada nun di seberang sana pun hadir dalam barisan orang Turki malam itu yang sedang memperjuangkan Islam.

Iringan takbir “Allahu Akbar” dan nama Recep Tayyip Erdogan berulang-ulang dikumandangkan di jalan malam itu. Jalan penuh sesak layaknya stadion-stadion sepak bola di liga-liga besar Eropa dan membuat macet sejumlah ruas jalan yang ada. Dan, itulah fanatisme luar biasa yang ditunjukkan oleh masyarakat Turki terhadap presidennya, seolah menjadi malam yang panjang bersama Erdogan dan rakyat yang mencintainya.

Saya mulai masuk ke dalam barisan dengan sebuah kamera digital yang selalu menemani saya. Kini saya mulai mengabadikan sejumlah momen bersejarah ini. Tak lama berselang, saya sampai di sebuah tempat di mana sangat banyak orang berkumpul untuk menyaksikan siaran langsung pidato presiden terpilih dari Ankara yang disiarkan salah satu stasiun televisi Turki. Layar lebar berukuran sekitar 8x6 meter pun terbentang di lapangan tersebut. Kibaran bendera Turki dan bendera Palestina pun menjadi sebuah pemandangan hebat dalam kerumunan masyarakat dua benua ini, bagaikan saudara kembar yang tak terpisahkan.

Saya melihat ke layar lebar tersebut. Jutaan massa juga berkumpul di Ankara. Melalui jumlah hitungan suara yang ditampilkan televisi, saat itu Erdogan sudah mendulang 52,1% suara, disusul calon lainnya Ihsanoglu yang mengumpulkan 38,3% suara, dan Demitras 9,7%. Orasi disampaikan dalam bahasa Turki, sehingga tak banyak yang saya tahu isinya. Tapi, yang jelas, Erdogan berterima kasih kepada rakyat yang memilihnya dan dia menyatakan siap memimpin bangsa yang dulunya memiliki hubungan bilateral dengan Aceh ini.

Sejenak, saya ke luar dari tempat nonton bareng tersebut, ternyata ada hal unik lainnya yang terjadi di jalan. Anak muda dan gadis bermata biru juga menari dan bernyanyi, seakan tanpa mengenal lelah malam itu. Tak ada tindakan yang anarkis, semuanya tertib meskipun pihak kepolisian tidak terlihat berjaga di sekitar mereka. Bagi saya, ini sebuah selebrasi yang baik. Meskipun begitu, semua kendaraan yang melintas di wilayah Altunizade haruslah siap-siap untuk digoyang beramai-ramai apabila tidak memiliki bendera Turki. Walaupun digoyang ke kiri dan ke kanan, tapi pengendara tetap tidak marah. Semua pengendara malah terlihat begitu menikmati “goyangan” itu.

Hingga larut malam sekitar pukul 00.00 lewat, luapan kegembiraan rakyat masih belum selesai. Tapi, saya mencoba meninggalkan tempat itu karena masih ada hal yang harus saya kerjakan esok harinya di negeri berperadaban tinggi ini.

Dari sejumlah informasi yang didapat, Erdogan akan mengubah konstitusi negerinya untuk menjadikan posisi presiden lebih berpengaruh ketimbang sebelumnya yang hanya jabatan seremonial belaka. Presiden Turki nantinya akan mempunyai kekuasaan eksekutif dalam memimpin negeri.

Sebagaimana diketahui, di bawah Erdogan, Turki bangkit sebagai salah satu negara dengan perekonomian terkuat. Namun, kelompok sekuler khawatir kepemimpinan Erdogan akan membawa negara sekuler bentukan Mustafa Kemal Attaturk itu kembali ke masa kekhalifahan Ottoman yang berakhir pada 1923. Tapi, kekhawatiran ini tidak dirasakan oleh masyarakat jelata di jalan-jalan Kota Turki. Harapan mereka besar bertumpu para Erdogan yang akan membawa negara itu menjadi lebih kuat dan disegani.

Akhirnya, selamat kepada Recep Tayyip Erdogan, mimpimu untuk “Turki baru” sudah tercapai. Saatnya menanti hasil final siapa akhirnya yang memimpin Indonesia.[mr-be]

*Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Unsyiah, perwakilan Indonesia dalam HARMAN Internship Program, melaporkan dari Istanbul, Turki. Email : arfa_pro@yahoo.com.

Sumber: www.aceh.tribunnews.com